Senin, 06 Oktober 2014

Macan Tutul Khas( DAERA.Jawa Barat-INDONESIA.)

Bismillah.
Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat .


Macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) tersebar di Pulau Jawa, Pulau Kangean, Pulau Nusakambangan dan Pulau Sempu.  Macan tutul jawa menempati habitat dengan toleransi yang tinggi terhadap iklim dan makanan.  Di Jawa Tengah macan tutul jawa hidup di hutan jati (Tectona grandis L.f.), hutan pinus (Pinus spp.), hutan tanaman campuran serta hutan alam, dataran rendah dan pegunungan.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang  karakteristik habitat macan tutul jawa di lansekap hutan pinus dan termasuk kelebihan dan kekurangannya  serta ancamannya terutama yang bersumber dari fragmentasi hutan.  Metode penelitian meliputi survei sebaran macan tutul, penggambaran struktur vegetasi dan habitat feature, inventarisasi satwa mangsa dan analisis fragmentasi hutan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan pinus merupakan habitat penting bagi macan tutul jawa di Jawa Tengah karena memiliki luasan terbesar kedua (36,3%) setelah hutan jati (55,3%) dan macan tutul jawa lebih banyak ditemukan di hutan pinus (43,8%) dibandingkan di tipe hutan lainnya.  Sebagian besar habitat macan tutul jawa di hutan pinus ada pada ketinggian lebih dari 500 dpl, beriklim basah (A dan B) dan topografinya lebih dari 60% curam sampai sangat curam.  Habitat macan tutul jawa di hutan pinus umumnya merupakan hutan lindung atau berbatasan dengan hutan lindung.  Ketiga lokasi yang diteliti (KPH Pekalongan Barat, Banyumas Barat dan Banyumas Timur) memiliki satwa mangsa utama primata dan ungulata serta ketersediaan air sepanjang tahun.  Ancaman utama terhadap macan tutul jawa di hutan pinus adalah terisolasi di habitat yang kecil akibat fragmentasi hutan oleh pemukiman, lahan pertanian, jalan raya, rel kereta api dan sungai besar.

Kata kunci: Macan tutul jawa, Panthera pardus, habitat, hutan pinus 


Elang Bondol Khas( DKI Jakarta-INDONESIA.)

Bismillah.
Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat .




Populasi elang bondol di sejumlah daerah terancam punah.
Selain di Kepulauan Seribu, kawasan yang juga dijadikan konservasi elang bondol adalah Taman Wisata Alam Danau Matano, Danau Towuti dan Danau Mahalona, semuanya di Sulawesi Selatan. Di habitat ini, populasi elang bondol terhitung masih banyak. Namun, menurut catatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Selatan, jarang sekali ditemukan sarang elang bondol di tepi danau.
Sejak 1989, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan elang bondol dan salak condet sebagai maskot kota. Di kawasan Cempaka Putih terdapat patung elang bondol sambil membawa salak condet.
Sementara di India, elang bondol dianggap sebagai representasi kontemporer Garuda, burung suci tunggangan Dewa Wisnu. Sedangkan di Pulau Bougainville, Papua Nugini, ada sebuah fabel yang menceritakan seorang ibu yang sedang berkebun dan meninggalkan anaknya di bawah pohon pisang. Kemudian si bayi melayang ke atas langit sambil menangis, dan berubah menjadi kaa’nang, yaitu elang bondol dan kalungnya berubah menjadi bulu burung.
Seperti halnya elang jawa, elang bondol juga termasuk satwa yang dilindungi dan tidak bisa diperdagangkan secara bebas. Hal ini karena populasinya di alam liar terus berkurang, meski status mereka berdasarkan IUCN Red List masih dinyatakan Least Concern (LC) atau tidak terlalu mengkhawatirkan.
Pada tahun 2004, CITES  (Convention on International Trade of Endangered Fauna and Flora / Konvensi tentang Perdagangan International Satwa dan Tumbuhan) memasukkan elang bondo; dalam daftar Apendiks II, akibat maraknya perburuan dan perdagangan ilegal, sehingga populasinya di berbagai daerah terus berkurang.

Elang bondol yang dijadikan maskot Kota Metropolitan Jakarta rupanya tidak senasib dengan lambang maupun gambar yang tertempel pada bus-bus Transjakarta yang bebas melintasi berbagai wilayah Ibu Kota. Nasib elang bondol (Haliastur indus) bisa dikatakan mirip dengan saudaranya, elang jawa (Nisaetus bartelsi), yang populasinya makin menurun dan mengkhawatirkan akibat maraknya perburuan dan perdagangan ilegal. Harus ada upaya serius, termasuk pendanaan dari Pemerintah Provinsi DKI, agar elang bondol kelak tidak sekadar maskot yang ujudnya tak pernah dilihat warganya sendiri.
Berdasarkan hasil survai tahun 2004, populasi elang bondol di Kepulauan Seribu, Jakarta, hanya tinggal 15 ekor saja. Meski spesies ini termasuk burung dengan wilayah persebaran merata di seluruh dunia, elang bondol bukanlah burung migran atau suka berpindah-pindah tempat.
Karena itulah dibutuhkan peranserta masyarakat dan Pemerintah Provinsi dalam pelestarian elang bondol di habitatnya.
Elang bondol bukan hanya dijumpai di wilayah DKI Jakarta, khususnya Kepulauan Seribu. Meski dijadikan maskot Betawi, spesies ini juga bisa ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan elang bondol juga terdapat di China Selatan, India, Asia Tenggara, dan Australia.
Elang Bondol berukuran sedang (45 cm), berwarna putih, dan cokelat pirang. Ketika remaja, seluruh tubuh berwarna kecokelatan dengan coretan pada dada. Warna cokelat mulai berubah menjadi putih keabuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga.Ketika menjadi burung dewasa, bagian kepala, leher, dan dada berwarna putih. Sedangkan sayap, punggung, ekor, dan perut berwarna cokelat terang, sangat kontras dengan buluprimernya yang berwarna hitam.



Elang bondol yang sedang berburu ikan.
Elang bondol biasa hidup di tepi laut, muara, rawa-rawa, atau danau. Dalam literatur perburungan internasional, burung ini disebut red-backed sea-eagle atau elang laut punggung merah. Sebagaimana burung pemangsa jenis lain, pakan elang bondol berupa daging segar yang didapatkan dari berburu. Ayam, mamalia kecil, ikan, kepiting, hingga serangga menjadi kesukaannya.
Musim kawin tergantung lokasi habitatnya. Namun berdasarkan penelitian, elang bondol secara umum memiliki musim kawin pada November hingga Desember dan mulai berkembang biak pada Januari sampai Agustus.
berukuran besar dengan bentuk yang berantakan dan terdiri atas tumpukan ranting pohon. Tidak jarang terlihat pula beberapa sampah plastik, kain dan sebagainya yang digunakan sebagai bahan pelapis untuk sarangnya.
Sarang terkadang digunakan beberapa kali dalam beberapa musim berkembang biak. Jumlah telur umumnya hanya 2 butir, yang akan dierami induk betina selama 28 – 35 hari.
Setelah telur-telur menetas, anakan mulai belajar terbang dan bisa meninggalkan sarang setelah berusia 40 – 56 hari. Mereka akan menjadi dewasa dan siap untuk hidup mandiri setelah berusia 100 – 116 hari.
Catatan Om Kicau :
Sebaiknya hindari memelihara, membeli, maupun memperdagangkan berbagai jenis burung elang, termasuk elang bondol dan elang jawa. Meski saat ini banyak orang yang menawarkan elang di situs penjualan online, mohon jangan membelinya.
Jika apes, dan ketahuan petugas, Anda bisa diancam hukuman pidana maksimal 5 (lima) tahun dan denda maksimal Rp 100 juta rupiah.

Minggu, 05 Oktober 2014

Mengenal badak Jawa Khas( DAERA.Banten-INDONESIA.)

Bismillah.
Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat . 





Badak Jawa sering kali disebut dengan Badak Bercula Satu kecil ( Rhinoceros sondaicus ) yaitu anggota dari famili Rhinocerotidae serta satu dari lima badak yang mana tetap ada. Badak ini masuk ke genus yang sama juga dengan badak india serta mempunyai kulit bermosaik yang mana mirip baju baja. Badak ini mempunyai panjang antara 3,1 sampai 3,2 m serta tinggi antara 1,4 sampai 1,7 m. Badak ini lebih kecil dari pada badak india serta lebih dekat atau hampir sama besar tubuhnya dengan badak hitam. Ukuran culanya umumnya kurang dari 20 cm, lebih kecil dari pada cula spesies badak yang lain.

Ciri-ciri Badak Jawa

Badak jawamemiliki ciri lebih kecil dari pada sepupunya, badak india, dan mempunyai besar tubuh yang hampir sama dengan badak hitam. Panjang tubuh badak Jawa ( terhitung  dari kepalanya ) bisa kian lebih 3,1 sampai 3,2 m dan tingginya bisa mencapai antara 1,4 sampai 1,7 m. Badak dewasa dilaporkan mempunyai berat antara 900 sampai 2.300 kilogram. Penelitian dalam upaya menghimpun pengukuran akurat badak Jawa tak pernah dikerjakan dan bukan hanya prioritas. Tak ada perbedaan besar pada type kelamin, namun badak Jawa betina ukuran tubuhnya bisa semakin besar. Badak di Vietnam lebih kecil dari pada di Jawa menurut penelitian bukti melewati photo dan pengukuran jejak kaki mereka.. 18
Layaknya sepupunya di India, badak jawa mempunyai satu cula ( spesies lain mempunyai dua cula ). Culanya yaitu cula paling kecil dari seluruh badak, umumnya lebih sedikit dari 20 cm dng yang terpanjang selama 27 cm. Badak jawa jarang memakai culanya utk bertarung, namun memakainya utk memindahkan lumpur di kubangan, utk menarik tanaman supaya bisa dimakan, dan buka jalur melewati vegetasi tidak tipis. Badak Jawa mempunyai bibir panjang, atas dan tingginya yang membantunya mengambil makanan. Gigi serinya panjang dan tajam ; saat badak jawa bertempur, mereka memakai gigi ini. Di belakang gigi seri, enam gigi geraham panjang dipakai utk mengunyah tanaman kasar. Layaknya seluruh badak, badak jawa mempunyai penciuman dan pendengaran yang baik namun mempunyai pandangan mata yang jelek. Mereka diperkirakan hidup sepanjang 30 hingga 45 th.. 18


Kulitnya yang sedikit berbulu, memiliki warna abu-abu atau abu-abu-coklat membungkus di pundak, punggung dan pantat. Kulitnya mempunyai pola mosaik alami yang mengakibatkan badak mempunyai perisai. Pembungkus leher badak Jawa lebih kecil dari pada badak india, namun terus membentuk wujud pelana pada pundak. Di karenakan risiko mengganggu spesies terancam, badak jawa dipelajari melewati sampel kotoran dan kamera. Mereka jarang didapati, dilihat atau di ukur dengan cara langsung.

Populasi Badak Jawa

Badak ini dulu menjadi satu di antara badak di Asia yang sangat banyak menyebar. Walau disebut dengan badak jawa, binatang ini tak terbatas hidup di Pulau Jawa saja, namun di semua Nusantara, di sepanjang Asia Tenggara serta di India dan Tiongkok. Spesies ini saat ini statusnya amat krusial, dimana cuma sedikit populasi yang bisa ditemukan di alam bebas, serta tak ada di kebun binatang. Badak ini kemungkinan merupakan mamalia terlangka yang ada di bumi. Sekitar 40-50 populasi  badak hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau Jawa, Indonesia. Dan populasi Badak Jawa di alam bebas yang lain terdapat di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam dan diperkiraan populasi tak kian lebih delapan ekor pada th. 2007. Menyusutnya populasi badak jawa disebabkan oleh perburuan untuk di ambil culanya, yang amat bernilai pada proses pengobatan tradisional Tiongkok, dan harganya mencapai $30. 000 per kilogram di pasar gelap. Menyusutnya populasi badak ini juga dikarenakan oleh kehilangan habitat, yang terlebih disebabkan oleh perang, layaknya perang Vietnam di Asia Tenggara juga mengakibatkan menyusutnya populasi badak Jawa serta menghambat pemulihan. Tempat yang masih tersisa cuma ada di dua tempat yang telah dilindungi, namun badak jawa tetap ada pada risiko diburu, sensitif pada penyakit serta menciutnya keragaman genetik menyebabkannya terganggu dalam proses berkembangbiak. WWF Indonesia mengupayakan untuk mengembangkan ke-2 untuk badak jawa di karenakan bila berlangsung serangan penyakit atau bencana alam layaknya tsunami, letusan gunung berapi Krakatau serta gempa bumi, populasi badak jawa dapat segera punah. Disamping itu, di karenakan invasi langkap ( arenga ) serta persaingan dengan populsai banteng untuk ruang dan juga sumber, maka populasinya makin terdesak. Lokasi yang diidentifikasikan aman serta relatif dekat yaitu Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat yang mana dulu jadi habitat badak Jawa
Badak jawa bisa hidup sepanjang 30-45 th. di alam bebas. Badak ini hidup di hutan hujan yang ada di dataran rendah, padang rumput basah serta tempat daratan banjir besar. Badak jawa umumnya memiliki sifat yang tenang, terkecuali pada saat kenal-mengenal serta membesarkan anak, meskipun satu grup terkadang bisa berkumpul di dekat kubangan serta area memperoleh mineral. Badak dewasa tak mempunyai hewan pemangsa sebagai musuhnya. Badak jawa umumnya menjahui manusia, namun dapat menyerang manusia bila ia merasa diganggu. Peneliti serta pelindung alam jarang meneliti binatang itu dengan cara langsung di karenakan kelangkaan mereka serta ada bahaya mengganggu sbuah spesies terancam. Peneliti memakai kamera serta sampel kotoran untuk bisa mengukur kesehatan serta perilaku mereka. Badak Jawa lebih sedikit dipelajari dari pada spesies badak yang lain.

Persebaran dan Habitat Badak Jawa

Perkiraan yang sangat optimistis memperkirakan bahwasanya lebih sedikit dari 100 badak Jawa tetap ada di alam bebas. Mereka di anggap sebagai suatu mamalia yang sangat terancam ; meskipun tetap ada badak Sumatra yang area hidupnya tak dilindungi layaknya badak Jawa, dan sebagian pelindung alam berasumsi mereka mempunyai risiko yang semakin besar. Badak Jawa diketahui tetap hidup di dua area, Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat pulau Jawa dan Taman Nasional Cat Tien yang terdapat lebih kurang 150 km sebelah utara Kota Ho Chi Minh.
Binatang ini dulu menyebar dari Assam dan Benggala ( area tinggal mereka dapat saling melengkapi pada badak Sumatra dan India di area tsb ) ke arah timur hingga Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan ke arah selatan di wilayah semenanjung Malaya, dan pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Badak Jawa hidup di rimba hujan dataran rendah, rumput tinggi dan area tidur alang-alang yang banyak dng sungai, dataran banjir besar atau tempat basah dng banyak kubangan lumpur. Meskipun dlm histori badak jawa suka tempat rendah, subspesies di Vietnam terdorong menuju tanah yang lebih tinggi ( di atas 2. 000 m ), yang dikarenakan oleh masalah dan perburuan oleh manusia.
Area hidup badak jawa sudah berkurang sepanjang 3. 000 th. paling akhir, diawali lebih kurang th. 1000 SM, area hidup di utara badak ini meluas ke Tongkok, namun mulai bergerak ke selatan dengan cara kasar pada 0. 5 km per th. di karenakan penetap manusia meningkat di tempat itu. Badak ini mulai punah di India pada dekade awal era ke-20. Badak Jawa diburu hingga kepunahan di semenanjung Malaysia th. 1932. Pada akhir perang Vietnam, badak Vietnam diakui punah selama tanah utama Asia. Pemburu lokal dan penebang rimba di Kamboja mengklaim lihat badak jawa di Pegunungan Cardamom, namun survey pada tempat tsb gagal mendapatkan bukti. Populasi badak Jawa juga barangkali ada di pulau Kalimantan, meskipun spesimen tsb barangkali adalah badak Sumatra, populasi kecil yang tetap hidup disana

Sifat

Badak jawa merupakan binatang yang sifatnya tenang terkecuali saat mereka berkembang biak dan di saat seekor inang mengasuh anaknya. Terkadang mereka dapat berkerumun membentuk grup kecil  di area mencari mineral dan kubangan lumpur. Berkubang di lumpur yaitu karakter umum seluruh badak utk melindungi suhu tubuh dan menolong menghindar penyakit dan parasit. Badak jawa tak menggali kubangan lumpurnya sendiri dan lebih senang memakai kubangan binatang yang lain atau lubang yang nampak dengan cara alami, yang dapat memakai culanya untuk jadi besar. Area mencari mineral juga amat mutlak di karenakan nutrisi utk badak di terima dari garam. Wilayahi jantan semakin besar dibanding betina dengan besar lokasi jantan 12–20 km² dan lokasi betina yang diperkirakan 3–14 km². Lokasi jantan semakin besar dari pada lokasi wanita. Tak diketahui apakah ada pertempuran teritorial.
Jantan menandai lokasi mereka dengan cara menumpukan kotoran dan percikan urin. Goresan yang di buat dengan kaki di tanah dan gulungan pohon muda juga dipakai untuk berkomunikasi. Bagian spesies badak yang lain mempunyai rutinitas khas buang air besar pada tumpukan kotoran badak besar dan lantas menggoreskan kaki belakangnya pada kotoran. Badak Sumatra dan Jawa saat buang air besar di tumpukan, tak lakukan goresan. Adaptasi karakter ini diketahui dengan cara ekologi ; di rimba hujan Jawa dan Sumatera, metode ini barangkali tak bermanfaat utk menyebar bau.
Badak jawa bisa hidup sepanjang 30-45 th. di alam bebas. Badak ini hidup di hutan hujan yang ada di dataran rendah, padang rumput basah serta tempat daratan banjir besar. Badak jawa umumnya memiliki sifat yang tenang, terkecuali pada saat kenal-mengenal serta membesarkan anak, meskipun satu grup terkadang bisa berkumpul di dekat kubangan serta area memperoleh mineral. Badak dewasa tak mempunyai hewan pemangsa sebagai musuhnya. Badak jawa umumnya menjahui manusia, namun dapat menyerang manusia bila ia merasa diganggu. Peneliti serta pelindung alam jarang meneliti binatang itu dengan cara langsung di karenakan kelangkaan mereka serta ada bahaya mengganggu sbuah spesies terancam. Peneliti memakai kamera serta sampel kotoran untuk bisa mengukur kesehatan serta perilaku mereka. Badak Jawa lebih sedikit dipelajari dari pada spesies badak yang lain.

Persebaran dan Habitat Badak Jawa

Perkiraan yang sangat optimistis memperkirakan bahwasanya lebih sedikit dari 100 badak Jawa tetap ada di alam bebas. Mereka di anggap sebagai suatu mamalia yang sangat terancam ; meskipun tetap ada badak Sumatra yang area hidupnya tak dilindungi layaknya badak Jawa, dan sebagian pelindung alam berasumsi mereka mempunyai risiko yang semakin besar. Badak Jawa diketahui tetap hidup di dua area, Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat pulau Jawa dan Taman Nasional Cat Tien yang terdapat lebih kurang 150 km sebelah utara Kota Ho Chi Minh.
Binatang ini dulu menyebar dari Assam dan Benggala ( area tinggal mereka dapat saling melengkapi pada badak Sumatra dan India di area tsb ) ke arah timur hingga Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan ke arah selatan di wilayah semenanjung Malaya, dan pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Badak Jawa hidup di rimba hujan dataran rendah, rumput tinggi dan area tidur alang-alang yang banyak dng sungai, dataran banjir besar atau tempat basah dng banyak kubangan lumpur. Meskipun dlm histori badak jawa suka tempat rendah, subspesies di Vietnam terdorong menuju tanah yang lebih tinggi ( di atas 2. 000 m ), yang dikarenakan oleh masalah dan perburuan oleh manusia.
Area hidup badak jawa sudah berkurang sepanjang 3. 000 th. paling akhir, diawali lebih kurang th. 1000 SM, area hidup di utara badak ini meluas ke Tongkok, namun mulai bergerak ke selatan dengan cara kasar pada 0. 5 km per th. di karenakan penetap manusia meningkat di tempat itu. Badak ini mulai punah di India pada dekade awal era ke-20. Badak Jawa diburu hingga kepunahan di semenanjung Malaysia th. 1932. Pada akhir perang Vietnam, badak Vietnam diakui punah selama tanah utama Asia. Pemburu lokal dan penebang rimba di Kamboja mengklaim lihat badak jawa di Pegunungan Cardamom, namun survey pada tempat tsb gagal mendapatkan bukti. Populasi badak Jawa juga barangkali ada di pulau Kalimantan, meskipun spesimen tsb barangkali adalah badak Sumatra, populasi kecil yang tetap hidup disana

Sifat

Badak jawa merupakan binatang yang sifatnya tenang terkecuali saat mereka berkembang biak dan di saat seekor inang mengasuh anaknya. Terkadang mereka dapat berkerumun membentuk grup kecil  di area mencari mineral dan kubangan lumpur. Berkubang di lumpur yaitu karakter umum seluruh badak utk melindungi suhu tubuh dan menolong menghindar penyakit dan parasit. Badak jawa tak menggali kubangan lumpurnya sendiri dan lebih senang memakai kubangan binatang yang lain atau lubang yang nampak dengan cara alami, yang dapat memakai culanya untuk jadi besar. Area mencari mineral juga amat mutlak di karenakan nutrisi utk badak di terima dari garam. Wilayahi jantan semakin besar dibanding betina dengan besar lokasi jantan 12–20 km² dan lokasi betina yang diperkirakan 3–14 km². Lokasi jantan semakin besar dari pada lokasi wanita. Tak diketahui apakah ada pertempuran teritorial.
Jantan menandai lokasi mereka dengan cara menumpukan kotoran dan percikan urin. Goresan yang di buat dengan kaki di tanah dan gulungan pohon muda juga dipakai untuk berkomunikasi. Bagian spesies badak yang lain mempunyai rutinitas khas buang air besar pada tumpukan kotoran badak besar dan lantas menggoreskan kaki belakangnya pada kotoran. Badak Sumatra dan Jawa saat buang air besar di tumpukan, tak lakukan goresan. Adaptasi karakter ini diketahui dengan cara ekologi ; di rimba hujan Jawa dan Sumatera, metode ini barangkali tak bermanfaat utk menyebar bau.
Badak jawa mempunyai lebih sedikit nada dari pada badak sumatra ; amat sedikit nada badak jawa yang diketahui. Badak Jawa dewasa tak mempunyai musuh alami tak hanya manusia. Spesies ini, terlebih sekali di Vietnam, yaitu spesies yang melarikan diri ke rimba saat manusia mendekat hingga sukar utk meneliti badak. Saat manusia terlampau dekat dng badak jawa, badak itu dapat jadi agresif dan dapat menyerang, menikam dng gigi serinya di rahang bawah sesaat menikam keatas dng kepalanya. Karakter anti-sosialnya barangkali adalah adaptasi tekanan populasi ; bukti histori mengusulkan bahwa spesies ini dulu lebih berkelompok.

Makanan

Badak jawa merupakan hewan herbivora dan makan berbagai macam spesies tanaman, terlebih tunas, ranting, dedaunan muda dan buah yang jatuh. Umumnya tumbuhan yang disukai oleh spesies ini tumbuh di tempat yang terkena cahaya matahari : pada pembukaan hutan, semak-semak dan jenis vegetasi yang lain tanpa pohon besar. Badak menjatuhkan pohon muda utk meraih makanannya dan mengambilnya dng bibir atasnya yang bisa memegang. Badak Jawa yaitu pemakan yang sangat bisa beradaptasi dari seluruh spesies badak. Badak diperkirakan makan 50 kg makanan /hari. Layaknya badak Sumatra, spesies badak ini membutuhkan garam utk makanannya. Area melacak mineral umum tak ada di Ujung Kulon, namun badak Jawa tampak minum air laut utk nutrisi sama yang diperlukan.

Reproduksi Badak Jawa


Karakter seksual badak Jawa sukar dipelajari di karenakan spesies ini jarang dilihat dengan cara langsung dan tak ada kebun binatang yang mempunyai spesimennya. Badak Jawa Betina mencapai kematangan seksual pada umur 3-4 th. sesaat kematangan seksual jantan pada usia 6. Kemungkinan untuk bisa hamil diperkirakan akan terlihat pada periode 16-19 bln.. Interval kelahiran spesies ini 4–5 th. Empat spesies badak yang lain mempunyai karakter pasangan yang serupa.

Gajah Sumatera Khas( Daera.Lampung-INDONESIA.)

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat .






Gajah Sumatera merupakan keturuan dari gajah Asia yang hanya bisa di jumpai di wilayah pulau Sumatera.Pada umumnya Gajah Sumatera memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari pada Gajah India. Gajah Sumatera termasuk Satwa Langka Indonesia yang Dilindungi, dimana populasi gajah sumatera mulai menurun dan termasuk spesies yang langka dan terancam akan punah. Menurut hasil survei yang dilakukan pada tahun 2000 terdapat sekitar 2000 sampai 2700 ekor, namun pada akhirnya 65% dari populasinya tersebut mati karena di bunuh oleh manusia dan sisanya 35% kemungkinan mati karena di racuni. Kini habitat yang dulunya di huni oleh Gajah Sumatera menjadi lahan perkebunan.

Mamalia Terbesar di Indonesia

Gajah sumatera merupakan jenis mamalia terbesar yang ada di indonesia, yang mana beratnya mencapai 6 ton dan memiliki tinggi mencapai 3,5 m. Gajah memiliki periode untuk mengandung cukup lama, yaitu 22 bulan dan umurnya sampai 70 tahun. Gajah merupakan jenis hewan herbivora yang cerdas karena memiliki otak yang lebih besar daripada mamalia yang lainya. Gajah memiliki telinga yang cukup besar, sehingga pendengaranya pun sangatlah tajam. Selain itu telinga yang besar juga berfungsi sebagai pengatur suhu panas tubuh. Sedangkan belalinya berfungsi untuk mencari/mendapatkan makanan dan air, serta bisa di gunakan untuk mengenggam dengan ujungnya.

Habitat Gajah Sumatera

Gajah sumatera memiliki urutan sosial yang sangat tertata, kehidupad sosial antara gajah jantan dan betina sangatlah berbeda. Dimana sang betina lebih menghabiskan hidupnya dalam kelompok keluarha yang terdiri atas ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan bibi. Kelompok keluarga ini dipimpin oleh gajah betina tertua. Ketika ada salah satu gajah sedang mengandung maka 2-3 gajah akan selalu menemaninya. Beda dengan gajah betina, gajah jantan sering menghabiskan waktu hidupnya untuk hidup menyendiri alias tidak berkelompok. Meskipun gajah memiliki badan yang besar mereka sangatlah handal dalam urusan berenang, dimana gajah bisa berenang selama kurang lebih 6 jam dan bisa menempuh jarak sejauh 50km. Gading gajah merupakan sepasang gigi seri yang ada pada bagian depan rahang atas, yang mana akan terus tumbuh selama gajah itu hidup, meskipun pertumbuhanya tidak terlalu panjang. Gajah memiliki tengkorak yang besar dan kuat, dimana didalamnya berisikan otak yang sangat cerdas. Tak heran gajah memiliki ingatan yang sangat kuat, dan jarang kali melupakan perintah-perintah yang telah diajarkan oleh sang pawang. Rata-rata gajah mampu mengingat 25 perintah atau aba-aba serta mampu membuat sebuah alat sendiri untuk digunakanya. Seperti saat ia merasakan gatal di punggungya ia akan mematahkan sebuah tongkat untuk digunakan menggaruk punggungnya yang gatal.

Makanan Gajah Sumatera

Gajah merupakan jenis hewan herbivora. Mereka akan sedikitnya menghabiskan waktu sekitar 16 jam dalam sehari hanya untuk mengumpulkan makanan. Yang mana makananya 50% terdiri dari rumput, dan ditambah dengan dedaunan, ranting, akar dan sedikit buah, benih bunga. Gajah hanya akan mencerna 40% dari apa yang dimakanya, maka dari itu mereka harus mangkonsusminya dalam jumlah yang besar. Gajah dewasa bisa mengonsumsi 300 pon hingga 600 pon atau dalam ukuran kg antara 140kg sampai 270kg dalam seharinya. Dimana sebagian besar atau sekitar 60% dari makananya akan tertinggal di dalam perutnya dan tidak di cerna oleh gajah.

Reproduksi atau Kembang Biak

Gajah Sumatera termasuk jenis hewan mamalia, dimana gajah berkembang biak dengan cara melahirkan. Masa mengandung yang di alami oleh gajah pada umumnya sekitar 22 bulan lamanya. Saat lahir, bayi gajah biasanya akan memiliki berat sekitar 120 kg dan tingginya mencapai 90cm. Dengan ukuranya yang besar maka bayi gajah merupakan bayi mamalia terbesar yang ada di dunia ini.

Jumat, 03 Oktober 2014

Beruang Madu. khas(Bengkulu-indonesia.)

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat .



 Beruang madu  
termasuk salah satu jenis beruang terkecil di antara jenis beruang yang ada di dunia. Panjang tubuhnya 1,40 m, tinggi punggungnya 70 cm dengan berat berkisar 50 - 65 kg.
Kuku yang panjang digunakan untuk memanjat pohon-pohon yang berbatang lurus dan tinggi dengan cepat dan mudah.
Beruang madu  berwarna hitam, dengan sedikit bulu yang keputih­putihan atau kuning yang ber­bentuk "V" di dadanya: Moncong­nya berwama lebih cerah dari wama badannya.Beruang madu senang hidup di hutan-hutan primer, hutan sekunder, dan sering juga di lahan-lahan pertanian.
Penyebarannya mencakup Sumatera dan Kalimantan serta Semenanjung Ma­laya, Indocina, Cina Selatan dan Burma. Di propinsi Bengkulu banyak dijumpai di daerah-daerah rawan gangguan, yaitu di kabupaten Bengkulu Selatan dan Bengkulu Utara.
Beruang madu walaupun termasuk ke dalam ordo karnivora (pemakan daging) tetapi bersifat omnivora (pemakan segala), antara lain binatang-binatang kecil, burung, ayam, buah-buahan dan daun-daun tertentu terutama pucuk-pucuk palem.

Beruang Madu.
Makanan yang paling disukainya ialah sarang lebah (anak beserta madunya), oleh karena itulah binatang ini disebut "beruang madu". Caranya seekor beruang memangsa sebuah sarang madu, ialah dengan memasukkan kuku­-kuku kaki depannya ke dalam sebuah sarang yang sudah ada madunya, lalu menjilat madu beserta anak lebah itu dari dalamnya. Kegiatan mencari makan dilakukan pada malam hari.

Saat ini beruang madu  terancam punah karena berkurangnya habitat mereka dan akibat perburuan liar, baik untuk diambil dagingnya atau kepentingan medis. Banyak orang China percaya bahwa bagian-bagian beruang madu memiliki kekuatan menyembuhkan yang spesial.

Kamis, 02 Oktober 2014

Mentilin (Tarsius bancanus) Satwa khas Bangka Belitung-Indonesia.

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat . 





Mentilin atau Tarsius bancanus merupakan satwa identitas Bangka Belitung. Salah satu spesies Tarsius yang merupakan endemik Sumatera dan Kalimantan ini ditetapkan sebagai fauna identitas provinsi Bangka Belitung.
Mentilin yang dalam bahasa ilmiah (latin) dikenal sebagai dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Horsfield’s Tarsier atau Western Tarsier.
Terdapat 4 subspesies Horsfield’s Tarsier, yaitu Tarsius bancanus bancanusTarsius bancanus borneanusTarsius bancanus natunensis, dan Tarsius bancanus saltator.
Diskripsi.
 Mentilin atau Horsfield’s Tarsier mempunyai ciri-ciri dan perilaku seperti jenis-jenis tarsius lainnya. Tubuh primata ini relatif mungil dengan panjang tubuhnya berkisar antara 12-15 cm dengan berat tubuh sekitar 128 gram (jantan) dan 117 gram (betina). Bulu tubuh mentilin berwarna coklat kemerahan hingga abu-abu kecoklatan.
Mentilin (Tarsius bancanus) fauna identitas Bangka Belitung
Primata yang dijadikan fauna identitas provinsi Bangka Belitung ini memiliki ekor yang panjang, bahkan melebihi panjang tubuhnya. Panjang ekor mentilin (Tarsius bancanus) bisa mencapai 18-22 cm. Seperti tarsius lainnya, Horsfield’s Tarsier memiliki sepasang mata yang sangat besar.
Mentilin (Tarsius bancanus) merupakan binatang karnivora. Makanannya terutama adalah serangga seperti belalang, kumbang, kupu-kupu, belalang sembah, semut, dan jangkrik, tetapi fauna identitas provinsi Bangka Belitung ini juga memakan berbagai vertebrata kecil lainnya seperti kelelawar dan ular.
Mentilin tergolong binatang nokturnal yang banyak berisitirahat pada siang hari pada dahan-dahan kecil dengan ketinggian 3 hingga 5 meter dari permukaan tanah dan baru bangun untuk beraktifitas saat menjelang malam tiba.
Persebaran dan Konservasi.
Di Indonesia, Tarsius ini dapat ditemukan di pulau Kalimantan, Sumatera, dan pulau-pulau sekitar seperti Bangka, Belitung, dan Karimata. Selain itu terdapat juga di Sabah dan Serawak (Malaysia) dan Brunei Darussalam.
Persebaran lebih spesifik dilihat berdasarkan jenisnya. Tarsius bancanus saltatorterdapat di Belitung, Indonesia. Tarsius bancanus natunensis terdapat di pulau Natuna dan pulau Subi Island, Indonesia. Tarsius bancanus borneanus terdapat di Brunei, Indonesia (Kalimantan dan pulau Karimata) dan Malaysia (Sabah dan Sarawak) and on the island of Karimata (Indonesia). Tarsius bancanus bancanus 
terdapat di sebagian Sumatra dan pulau Bangka, Indonesia.
Secara umum, mentilin atau Horsfield’s Tarsier dikategorikan dalam status konservasi vulnerable oleh IUCN Redlist. Namun jika berdasarkan masing-masing subspesies,Tarsius bancanus natunensis dikategorikan Critically Endangered, Tarsius bancanus bancanus dan Tarsius bancanus saltator dikategorikan sebagai Endangered. SedangkanTarsius bancanus borneanus dikategorikan Vulnerable.
Oleh CITES, tarsius ini dimasukkan dalam daftar Apendiks II. Sedangkan oleh pememrintah Indonesia, mentilin dan semua jenis tarsius dilindungi berdasarkan PP. No. 7 Tahun 1999.
Meskipun kalah tenar dibandingkan Tarsius tersier yang ada di Sulawesi, namun mentilin pun menjadi salah satu kekayaan bumi Indonesia. Terlebih primata ini ditetapkan menjadi maskot salah satu provinsi di Indonesia, Bangka Belitung. So, mari kita kenali dan jaga kelestariannya.

Harimau Sumatera -khas-DAERAH (Jambi.-INDONESIA).

Bismillah.
Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat . 





Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered)
Berdasarkan data tahun 2004, jumlah populasi harimau Sumatera di alam bebas hanya sekitar 400 ekor saja. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga.

Harimau Sumatera menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup: mereka kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan illegal dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk obat-obatan tradisional, perhiasan, jimat dan dekorasi. Harimau Sumatera hanya dapat ditemukan di pulau Sumatera, Indonesia.

Ciri-ciri Fisik
·         Harimau Sumatera memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini.
·         Jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg.
·         Warna kulit harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua.


Ancaman
Harimau Sumatera berada di ujung kepunahan karena hilangnya habitat secara tak terkendali, berkurangnya jumlah spesies mangsa, dan perburuan. Laporan tahun 2008 yang dikeluarkan oleh TRAFFIC – program kerja sama WWF dan lembaga Konservasi Dunia, IUCN, untuk monitoring perdagangan satwa liar – menemukan adanya pasar ilegal yang berkembang subur dan menjadi pasar domestik terbuka di Sumatera yang memperdagangkan bagian-bagian tubuh harimau. Dalam studi tersebut TRAFFIC mengungkapkan bahwa paling sedikit 50 harimau Sumatera telah diburu setiap tahunnya dalam kurun waktu 1998- 2002. Penindakan tegas untuk menghentikan perburuan dan perdagangan harimau harus segera dilakukan di Sumatera.

Populasi Harimau Sumatera yang hanya sekitar 400 ekor saat ini tersisa di dalam blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut, dan hutan hujan pegunungan. Sebagian besar kawasan ini terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Bersamaan dengan hilangnya hutan habitat mereka, harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia dan seringkali dibunuh atau ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan tanpa sengaja dengan manusia.

Propinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi harimau Sumatera. Sayangnya, sekalipun sudah dilindungi secara hukum, populasi harimau terus mengalami penurunan hingga 70% dalam seperempat abad terakhir. Pada tahun 2007, diperkirakan hanya tersisa 192 ekor harimau Sumatera di alam liar Propinsi Riau.

Upaya yang Dilakukan WWF
WWF Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, industri yang mengancam habitat harimau, organisasi konservasi lainnya serta masyarakat lokal untuk menyelamatkan Harimau Sumatera dari kepunahan. Pada tahun 2004, Pemerintah Indonesia mendeklarasikan kawasan penting, Tesso Nilo, sebagai Taman Nasional untuk memastikan masa depan yang aman bagi keberadaan Harimau Sumatera. Tahun 2010, pada KTT Harimau di St. Petersburg, Indonesia dan 12 negara lainnya yang melindungi harimau berkomitmen dalam sebuah tujuan konservasi spesies ambisius dan visioner yang pernah dibuat: TX2 – untuk menambah kelipatan jumlah harimau sampai pada akhir tahun 2022, tahun Harimau selanjutnya.

Program Nasional Pemulihan Harimau Indonesia sekarang merupakan bagian dari tujuan global dan meliputi enam lansekap prioritas Harimau Sumatera ini: Ulumasen, Kampar-Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Bukit Balai Rejang Selatan, dan Bukit Barisan Selatan.

WWF saat ini tengah melakukan terobosan penelitian tentang Harimau Sumatera di Sumatera Tengah, menggunakan perangkap kamera untuk memperkirakan jumlah populasi, habitat dan distribusi untuk mengidentifikasi koridor satwa liar yang membutuhkan perlindungan. WWF juga menurunkan tim patroli anti-perburuan dan unit yang bekerja untuk mengurangi konflik manusia-harimau di masyarakat lokal.