Senin, 10 November 2014

banteng jawa Khas ( Jawa Indonesia.)

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat.



Tembadau atau banteng jawa ( Bon Javanicus ) adalah merupakan yang berkerabat dengan sapi.Banteng dapat dijumpai di Myanmar,Thailand,Kamboja,Laos,Vietnam,Kalimantan ,Jawa dan Bali.
Pada tahun 1849 di masa kolonialisasi Britania,banteng di bawa ke Australia Utara dan sampai sekarang masih lestri.Bos adalah jenis sapi liar dan domestik.Bos  dapat di bagi menjadi empat subgenera: Bos,Bibos.Novibos,dan Poephagus .Pembagian klasifikasi ini masih controversial ,Genus ini memiliki lima spesies yang tesisa ,namun kemungkinan spesies ini dapat bertambah menjadi tujuh jika varietas yang telah dijinakan dihitung menjadi spesies yang tepisah.Bahkan klasifikasi dapat bertambah menjadi Sembilan jika Genus Bison disertakan.Spesies-spesiea ini diyakini berasal dari Aurochs yang telah  punah.
Subgenus Bibos
-          Bos gaurus ( gaur or Indian Bison )
-          Bos frontalis ( gayal or mithun )domisticataed from of Bos gaurus
-          Bos javan icus ( Banteng )
-          Bos palaesondaicus ( Pleistocene Banteng )
-          Subgenus Novibos
-          Bos sauveli ( Kouprey or Grey ox )
-          Sub genus Poephagus
-          Bos grunniens (yak; also Bos mutus )
Ditribusi dan Subspesies
-          Banteng Jawa ( B,J, Javanicus ) di temukan di Jawa.
-          Banteng Kalimantan ( B,J,Lowi ) Berasal dari Kalimantan
-          Banteng Burma ( B,J. birmanicus ) di temukan di daerah Myanmar,Thailand ,Kamboja, Laos, dan Vietnam.
Ciri-ciri Banteng ( Bos Javanicus) mempunyai tinggi sekitar 160 cm dengan panjang antra 190-225 cm.Meskipun beberrapa banteng beratnya dapat mencapai  satu ton,namun rata-rata banteng jantan memiliki berat berkisar antara 600-800 kg.Sedangkan banteng betina memiliki berta  dan ukuran  yang lebih kecil,Banteng memiliki sepasang tanduk di kepalanya yang panjangnya antara 60-75 cm.
Kulit kaki bagian bawah,punuk,dan daerah sekitar mata dan moncong banteng berwarna putih ,pada banteng jantan memiliki kulit berwarna biru kehitaman atau coklat gelap dengan punuk di bagian punndak dan tanduk yang melengkung ke atas,sedangkan pada banteng betina memiliki kulit berwarna coklat kemerahan,tanpa punuk dan tanduk yang mengarah ke dalam.
Banteng mampu hidup hingga umur 20 tahun dengan masa kedewasaan ketika berusia 2-3 tahhun.Banteng betina mempunyai lama kehamilan hingga 285 hari dan umumnya hanya melahirkan  satu anak saja dalam satu masa kehamilan. Anak banteng akan di sapih ketika usia 6-9 bulan.Banteng hidup secara berkelompok dengan jumlah kawanan antara 2-40 individu dengan satu jantan. Banteng- banteng janta muda biasanya hidup sendirian atau dalam kelompo-kelompok kecil bujang. Banteng merupakan binatang herbivore yang makan rumput,dedaunan dan buah-buahan,banteng umumnya aktif pada siang dan malam hari,namun pada wilayah-wilayah yang dekat dengan pemukiman manisia banteng cenderung untuk beadabtasi sebagai binatang nocturnal yang aktif di malam hari. Banteng mempunyai habitan di daerah hutan yang lebat ataupun hutan yang bersemak,mulai dari dataran rendah hingga  ketinggian 2,100 mdpl.Persebaranya mulai dari Kamboja,Indonesia ( Jawa,Bali dan Klimantan )Laos, Malaysia,Thailand, Myanmar,dan Vietnam.
Di beberapa Negara seperti Brunai Darusalam,Banglades dan India,satwa banteng dinyatakan sudah punah.
 Populasi Banteng
Populasi banteng di seluruh dunia diperkirakan tidak lebih dari 8000 ekor,bahkan di mungkinkan kurang dari 5,000 ekor,dalam setiap wilayah  ( habitat ) populasi jarang jarang yang mampu mencapai dari 500 ekor.
 Populasi Banteng Di Taman Nasional Ujung Kulon  ( TNUK ) di perkirakan terdapat 300-700 ekor banteng ( tahun 2003) 200 ekor di Taman Nasional Meru Betiri( 2000 ) 200 ekor di Taman Baluran ( 2002 ),80 ekor di  Taman Nasional Alas Purwo ( 2002 ),
Populasi-populasi yang lebih kecil juga terdapat di beberapa tempat seperti di Cagar Alam Cikepuh,Cibanteng,Pangandaran,Malang, dan Kediri.
Lantaran populasinya semakain menurun sejak tahun 1996,banteng dinyatakan dalam status konservasi “Endangered” ( EN; Terancam Punah ) oleh IUCN
Kelangkaan banteng di sebabkan oleh pemburuan liar,dan bekurangnya habitat akibat pembukaan lahan untuk pemukiman dan Pertanian.

kalabang khas (indonesia.)

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat.


Kelabang atau Lipan ( Centipede ) merupakan hewan anthropoda yang tergolong dari kelas Chilopoda dan Upafilum Myriapoda. Dan Kelabang adalah hewan metameric yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas tubuhnya. Hewan Kelabang ini termasuk hewan yang berbisa dan termasuk hewan nokturnal.


Digigit Kelabang memang sakit dan terasa ngilu. Tapi tidak perlu terlalu khawatir, racun Kelabang tidak seberbahaya racun Kalajengking. Racun Kelabang hanya akan berpengaruh disekitar gigitan saja, berbeda dengan racun Kalajengking yang akan cepat menyebar melalui peredaran darah.

Kelabang menyukai tempat tempat yang lembab, seperti tumpukan kain kain, tumpukan kayu, dan sampah. Jadi, jagalah rumah agar tetap bersih dan rapi, jika tidak ingin berteman dengan bangsa Kelabang. Kelabang sangat menyukai bau ikan, baik yang dimasak maupun tidak, jadi jangan pernah membuang sembarangan tulang tulang ikan sehabis makan jika tidak ingin rumah Anda menjadi sarang Kelabang.

Jika menemukan Kelabang di rumah Anda, segera bunuh, jangan biarkan dia hidup agar tidak menggigit Anda dan orang lain. Jangan khawatir, Kelabang akan punah, hal itu kecil sekali kemungkinannya, karena Kelabang memang memiliki ilmu pertahanan yang cukup kuat untuk bertahan hidup dimanapun, walau tidak sehebat kecoa. Tetapi berhati hatilah ketika menghancurkannya, karena tubuhnya lentur dan panjang, Anda dapat tergigit kapan saja jika lengah. Segera hancurkan kepalanya.

Jika tergigit Kelabang, hal pertama yang harus dilakukan ialah membunuh Kelabangnya agar terhindar dari dendam dan gigitan lanjutan. Karena Kelabang menyukai tumpukan kain, maka tutuplah jalur pelarian Kelabang dengan kain agar ia bersembunyi, itulah kesempatan yang tepat untuk memusnahkan makhluk itu.

Membunuhnya dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya adalah dengan menyiramnya dengan air panas sebanyak mungkin hingga ia menggulungkan kakinya, cara yang lain ialah dengan melumat dengan sekuat tenaga kepalanya hingga seluruh tubuhnya. Jangan menyemprotnya dengan aerosol serangga ( obat nyamuk semprot ) karena akan membuatnya bergerak liar dan semakin liar.

Setelah membasmi Kelabangnya, maka sekarang saatnya melakukan hal hal kepada tempat gigitannya. Segera lumuri sekitar gigitan dengan larutan garam inggris atau dapat juga menggunakan minyak batu, setelah itu ikat dengan kain di atas gigitan, misalnya jika tergigit di jari kaki, maka kain dapat diikat di pergelangan kaki, hal ini berguna untuk mengurangi sakit. Yang terakhir, tidurlah.

Semua jenis Kelabang memiliki gigitan yang sungguh mengerikan rasa sakitnya, hanya saja antara setiap jenis Kelabang memiliki rasa gigitan sakit yang berbeda. Kelabang yang bewarna merah pekat tidak memberikan rasa sakit yang terlalu lama, paling lama hanya dua hari.

Kelabang merah yang kakinya lebih banyak dan rapat dapat memberikan rasa sakit yang lebih lama, Kelabang yang bewarna hijau kebiruan memiliki gigitan yang sangat sakit dibanding jenis Kelabang lain. Tetapi semua itu tergantung pada bagaimana perawatan dan pengobatan terhadap gigitannya. 

Katak Tanpa Paru-Paru Khas (kalimantan Indonesia.)

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat.


Barbourula kalimantanensis atau Katak Kepala-pipih Kalimantan (Bornean Flat-headed Frog) sangat unik karena tidak mempunyai paru-paru. Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis) menjadi satu-satunya katak di dunia yang tidak mempunyai paru-paru. Untuk bernafas, amfibi langka dan unik ini sepenuhnya bernafas melalui kulitnya.
Selain terkenal sebagai katak unik yang bernafas tanpa paru-paru, Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis) pun menjadi jenis amfibi langka dan endemik Indonesia. Katak Kepala-pipih Kalimantan menjadi satu diantara 9 amfibi langka yang berstatus Endangered di Indonesia. Pun menjadi salah satu katak endemik kalimantan yang sebarannya sangat terbatas. Katak tanpa paru-paru ini hanya ditemukan di kecamatan Nanga Pinoh, Melawi, Kalimantan Barat.
Nama latin hewan anggota Amphibia ini adalah Barbourula kalimantanensis Iskandar, 1978. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Bornean Flat-headed Frog atau Kalimantan Jungle Toad. Sedang dalam bahasa Indonesia dinamai sebagai Katak Kepala-pipih Kalimantan. Katak dari famili Bombinatoridae dideskripsikan pertama kali oleh Djoko T. Iskandar, seorang pakar herpetofauna dari ITB, pada tahun 1978.

Deskripsi Katak Kepala-pipih Kalimantan

Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis) berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 6,6 cm (jantan) dan 7,7 cm (betina). Kepalanya pipih mendatar, dengan moncong yang lebar membundar dan badan yang gempal. Tungkai depan dan belakang gemuk dengan selaput renang yang penuh hingga ke  masing-masing ujung jarinya.
Katak Kepala-pipih Kalimantan memiliki lubang hidung yang terletak di ujung moncong dan rata dengan kulit. Namun tidak memiliki celah tekak (glottis) sebagai muara saluran udara. Pun tidak memiliki paru-paru sebagai organ pernafasannya.
Merupakan hewan terrestrial yang sepenuhnya akuatik. Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis) menjadi hewan endemik dengan daerah sebaran yang hanya terbatas di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Indonesia. Spesies ini hanya dikenal dari menempati dua daerah yaitu Anak Sungai Kapuas di Nanga Sayan dan  Sungai Kelawit, Nanga Pinoh yang terletak di tengah-tengah hutan hujan tropis. Katak langka ini menyukai wilayah sungai yang berair dangkal namun jernih, dingin, berarus deras, dan berbatu-batu.

Katak Tanpa Paru-Paru yang Langka

Saat pertama kali berhasil dideskripsikan oleh Djoko T. Iskandar pada tahun 1978, pun saat spesimen kedua ditemuka pada tahun 1995, belum diketahui jika Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis) ini tidak memiliki paru-paru.
Keunikan Katak Kepala-pipih Kalimantan (Bornean Flat-headed Frog) yang tidak mempunyai paru-paru baru diketahui dari hasil pembedahan yang dilakukan pada tahun 2007. Sontak hal ini sempat menggegerkan dunia. Berbagai jenis katak lainnya bernafas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit, tidak ada satupun yang bernafas hanya melalui permukaan kulitnya. Kecuali pada berbagai jenis amfibi dari ordo caudata (salamander) dan gymnophiona (sesilia). Sehingga akhirnya Katak Kepala-pipih Kalimantan menjadi jenis amfibi dari ordo Anura yang tidak memiliki paru-paru dan bernafas hanya dengan permukaan kulit.
para ahli memperkirakan, ketiadaan paru-paru ini sebagai bentuk adaptasi Katak Kepala-pipih Kalimantan terhadap lingkungannya yang berair deras dan kaya oksigen. Dengan kondisi tersebut, Kepala-pipih Kalimantan memanfaatkan permukaan kulitnya untuk menyerap oksigen, dan menghilangkan paru-paru yang menjadikan tubuh katak sukar menyelam dan mudah dihanyutkan arus.
Sayangnya populasi katak ini tidak dapat diketahui. Diyakini memiliki distribusi yang sangat terbatas (kurang dari 500 km persegi) serta populasi yang sangat kecil dan memiliki tren penurunan. Ancaman terhadap spesies ini sangat tinggi karena adanya aktivitas penambangan emas ilegal dan rusaknya sungai-sungai akibat endapan dan  pencemaran limbah merkuri. Dipengaruhi juga akibat deforestasi yang terus terjadi di Kalimantan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Katak Kepala-pipih Kalimantan diklasifikaskan sebagai spesies Endangered (Kritis) oleh IUCN Redlist. Namun anehnya, Si Hewan Langka Barbourula kalimantanensis ini malah luput dan tidak terdaftar sebagaihewan yang dilindungi di Indonesia.

Klasifikasi Ilmiah Katak Kepala-pipih Kalimantan : Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Amphibia. Ordo: Anura. Famili: Bombinatoridae. Genus: Barbourula. Spesies: Barbourula kalimantanensis Iskandar, 1978.

Rusa Bawean Khas (Jawa Timur Indonesia.)

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat.




Rusa Bawean merupakan jenis rusa yang pada saat ini hanya bisa di jumpai di Pulau Bawean yang ada di tengah Laut Jawa. Dimana secara administratif Pulau Bawean berada di kawasan Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Rusa Bawean memiliki nama latinAxis Kuhlii. Jenis rusa ini termasuk langka dan telah di klasifikasikan oleh IUCN sebagai salah satu spesies terancam punah. Tak banyak, diperkirakan jumlah populasinya hanya kisaran 300 ekor yang ada di alam bebas. Hidupnya biasa membentuk kelompok kecil yang mana terdiri dari Rusa Betina dan anaknya ataupun Jantan yang ikut dengan betina untuk kawin. Rusa Bawean termasuk salah satu hewan nokturnal, dimana mereka aktif untuk mencari makan pada malam hari.

Ciri-ciri dan Karakteristik Rusa Bawean
Menurut study yang pernah di lakukan, rusa jantan memiliki tinggi antara 60 sampai 70cm. Dimana ekornya memiliki panjan 20cm dan Panjang tubuhnya (Kepala sampai tubuh) mencapai 140cm dengan bobot rusa dewasa antara 50 sampai 60 kg. Warna coklat sangat dominan dengan rusa ini. Rusa jantan memiliki tanduk yang bercabang tiga dan tumbuh mencapai 25 hingga 47cm. Tanduk tersebut berfungsi untuk memenangkan betina pada waktu musim kawin.

Penankaran Rusa Bawean
Dengan kondisi populasi Rusa Bawean yang kian terancam punah, maka dibuatlah sebuah tempat penangkaran khusus rusa bawean yang ada di Pulau Bawean, tepatnya berada di Beto Gebang Pudakit Barat, Kecamatan Sangkapura. Lokasi penangkaran ini memiliki jarak 10 km dari Sangkapura, dimana waktu tempuh yang diperlukan hanya 30 menit. Untuk bisa ke lokasi, kita bisa memakai kendaraan roda dua layaknya sepeda motor atau juga bisa membawa mobil. Kondisi jalanya sudah lumayan bagus, akan tetapi hanya sebatas ke desa terdekat.

Penangkaran ini memiliki luas 4 hektare dan berada tepat di kaki Gunung Gadung dan juga berbatasan dengan hutan konservasi Bawean. Lokasi penangkaran ini sangat berpotensial untuk dijadikan tempat wisata khususnya di bidang wisata pendidikan, penelitan dan ekowisata.

Minggu, 09 November 2014

sapi bali KHAS (Indonesia).

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat.




Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Kekhasan Fisik Sapi Bali
Sapi Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.
Sapi Bali dalam Kehidupan Petani Bali
Sapi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali.
·         Sapi Bali sebagai tenaga kerja pertanian
Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.
·         Sapi Bali sebagai sumber pendapatan
Sapi Bali mempunyai sifat subur, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Keunggulan lain yang sudah dikenal masyarakat adalah persentase karkas yang tinggi, juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat membuat sapi Bali menjadi sumber pendapatan yang diandalkan oleh petani.
·         Sapi Bali sebagai sarana upacara keagamaan
Dalam agama Hindu, sapi dipakai dalam upacara butha yadnya sebagai caru, yaitu hewan korban yang mengandung makna pembersihan. Demikian juga umat Muslim juga membutuhkan sapi untuk hewan Qurban pada hari rayaIdhul Adha.
·         Sapi bali sebagai hiburan dan obyek pariwisata
Sapi Bali juga dapat dipakai dalam sebuah atraksi yang unik dan menarik. Atraksi tersebut bahkan mampu menarik minat wisatawan manca negara untuk menonton. Atraksi tersebut adalah megembeng ( di kabupaten Jembrana) dan gerumbungan (di kabupaten Buleleng).

Minggu, 02 November 2014

Kuskus Beruang SULAWESI. KHAS (SULAWESI, INDONESIA.)

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat. 


Kuskus Beruang atau Kuse (Ailurops ursinus) adalah salah satu dari dua jenis kuskus endemik di Sulawesi. Binatang ini termasuk dalam golongan binatang berkantung (marsupialia), dimana betinanya membawa bayi di dalam kantong yang terdapat di bagian perut. Panjang badan dan kepala kuse adalah 56 cm, panjang ekornya 54 cm dan beratnya dapat mencapai 8 kg.
Kuse memiliki ekor yang prehensil, yaitu ekor yang dapat memegang dan biasa digunakan untuk membantu berpegangan pada waktu memanjat pohon yangtinggi.Nasib Kuse di Sulawesi Utara berada dalam bahaya karena populasinya sudah terlampau kecil.
Antara tahun 1980 dan 1995 di Tangkoko telah terjadi pengurangan kepadatan sebesar 50%, yakni dari 3,9 ekor per km2 menjadi 2,0 ekor per km2. Selama survei WCS di hutan-hutan lindung Sulawesi Utara tahun 1999, binatang ini hanya terlihat tujuh kali di sepanjang 491 km jalur transek. Ini menunjukkan kepadatan populasi yang sangat rendah.


Kuskus beruang sulawesi. Khas (sulawesi, Indonesia.)

Bismillah.Sebenarnya artikel ini terinsperasi dari tugas sekolah dengan tujuan untuk mengenali organisme khas daerah karena menarik sayapun mencoba untuk memposting di blog dan semoga bermanfaat. 

Kuskus beruang sulawesi ( Ailurops ursinus ) merupakan salah satu jenis hewan endemik pulau sulawesi yang dilindungi oleh peraturan pemerintah no 7 tahun 1999. Hewan yang masuk dalam daftar merah spesies terancam IUCN 2008 ini adalah anggota dari genus Ailurops. Kuskus Beruang adalah hewan marsupia dan dari keluarga Phalangeridae. Bentuk tubuhnya yang besar seperti kucing bahkan bisa lebih ukurannya. Kuskus beruang ini ukurannya sangat besar dibandingkan dengan para kerabatnya di keluarga phalangeridae, oleh sebab itu mamalia ini di sebut dengan kuskus beruang karena bentuk tubuhnya seperti beruang.Kuskus beruang memiliki ukuran tubuh yang besar jika dibandingkan dengan jenis kuskus pada umumnya. Bentuk tubuhnya yang besar membuat mamalia satu ini menjadi mamalia terbesar di tajuk atas hutan setelah monyet yang ada disana. Panjang badan dan kepala adalah 56 cm, panjang ekornya 54 cm dan beratnya dapat mencapai 8 kg, Warna tubuh jantan dan betina tidak ada perbedaan. Panjang ekor hampir sama panjang dengan panjang tubuh, bagian ekor ditumbuhi rambut dari pangkal sampai lebih dari setengah panjang total ekor, sisa ujung ekor yang tidak ditumbuhi rambut berwarana hitam, ujung ekor  ini sangat kuat dan dapat digunakan untuk bergelantungan atau melilit batang dahan pohon saat mencari makan (prehensil) dan dapat digunakan sebagai alat untuk menggantung yang menahan seluruh beban tubuh saat dengan posisi kepala di bawah saat mencari makan di pohon.
Daun telinga pendek, hampir tidak terlihat karena tersembunyi dibawah rambut-rambut kepala, bagian luar dan dalam telinga berambut. Warna dasar tubuh bagian atas adalah hitam pucat dengan rambut bagian punggung berwarna coklat kehitaman, beberapa rambut bagian tubuh lain berwarna kuning kecoklatan atau lebih pucat.
Klasifikasi kuskus beruang menurut Temminck (1824) dalam Flannery et al. (1987) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Sub Phylum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Marsupialia
Famili : Phalangeridae
Sub Famili : Ailuropinae
Genus : Ailurops
Spesies : Ailurops ursinus (Temminck, 1824).
Kuskus beruang merupakan binatang yang pendiam, hampir-hampir tidak bersuara kecuali kalau terganggu. Butuh pengamatan yang jeli untuk dapat melihat keberadaan kuskus beruang walaupun satwa ini relatif pendiam dan jarang bersuara. Sekali menemukan satwa ini maka pengamat akan dapat melakukan pengamatan dengan puas karena satwa ini bergerak sangat lamban. Mamalia berkantung ini membentuk kelompok kecil yang hanya terdiri dari induk dan bayinya, kecuali pada musim kawin, kuskus betina dan kuskus beruang jantan biasanya memisahkan diri dari kelompoknya atau hidup soliter. Ekor prehensilnya dan tangan serta kakinya digunakan untuk bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya meskipun pergerakannya sangat lambat. Kuskus beruang aktif pada siang hari (diurnal). Sebagian besar aktivitas hariannya banyak digunakan untuk beristirahat dan tidur, sedikit waktunya digunakan untuk makan dan mengutu (grooming), waktunya untuk berinteraksi juga sangat sedikit, kegiatan tersebut dilakukan sepanjang siang dan malam. Waktu istirahatnya yang banyak digunakan untuk mencerna selulosa dari dedaunan sebagai sumber makanannya yang mengandung sedikit nutrisi. Kuskus yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Bear Cuscus, Bear Phalanger, atau Sulawesi Bear Cuscus ini terdapat di pulau Sulawesi, pulau Butung, pulau Peleng, pulau Togian, Indonesia. Kuskus beruang betina dewasa dapat melahirkan satu-sampai dua kali dalam setahun. Kuskus beruang termasuk hewan berkantung (marsupial). Anak kuskus beruang lahir dalam keadaan sangat kecil dan akan langsung menuju kantung induknya untuk dibesarkan selama sekitar 8 bulan, setelah itu akan keluar dari kantong dan hidup bersama induknya sampai siap untuk mandiri.
Pengamat bisa melakukan pengamatan ditempat sumber pakan kuskus beruang. Untuk memperbesar peluang pertemuan dengan kuskus beruang sediakan makanan favorit mereka. Makanananya terdiri dari daun dan buah, misalnya daun kayu kambing ( Garuga floribunda ), Pohon mindi ( Melia azedarach ), kenanga ( Cananga ordorata ) dan buah rao (Drancotomelon dao dan D. Mangiferum). Daun muda lebih disukai karna lebih mudah dicerna dan mengandung lebih sedikit tanin, tetapi sesekali daun yang lebih tua juga dimakan untuk memenuhi kebutuhan protein. Kadang-kadang bunga dan buah mentah juga dimakan untuk memenuhi kebutuhan protein.
Saat ini populasi kuskus beruang terus menurun dan terancam punah, karena terjadinya perburuan dan perdagangan liar. Di samping itu sebagian hutan yang merupakan habitat aslinya telah mengalami kerusakan akibat pembukaan hutan untuk areal pertanian dan pemukiman penduduk. Di asalnya sendiri kuskus beruang sering menjadi hewan buruan petani dikarenakan hewan yang sering dipanggil “Kuse” ini sering memakan daun-daun muda yang ditanami oleh petani. Hewan yang hobinya tidur ini oleh pemerintah sudah dimasukan dalam daftar hewan dilindungi dalam peraturan pemerintah no.7 tahun 1999, tetapi sampai saat ini pun pemerintah belum mampu menghentikan perdagangan satwa liar ilegal.
Meskipun masih bisa ditemui di beberapa tempat seperti di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan di kawasan pegunungan Lompo Battang (Sulawesi Selatan), populasi Kuskus Beruang Sulawesi (Ailurops ursinus) diyakini mengalami penurunan drastis. Oleh karenanya IUCN Red List memasukkan Kuskus Beruang Sulawesi (Ailurops ursinus) dalam kategori Vulnerable.Berdasarkan fakta-fakta tersebut, maka usaha pelestarian dan perlindungan satwa khususnya kuskus sangat penting untuk segera dilakukan. Salah satu usaha mendukung pelestarian satwa liar adalah dengan menangkarkannya, karena melalui penangkaran dapat dipelajari dan diperoleh banyak informasi ilmiah guna menunjang konservasi baik in situ maupun ex situ.

Sampai saat ini pelestarian kuskus beruang di sulawesi masih sangat terbatas, populasinya sangat menurun dari tahun ke tahun menurut informasi dari salah satu pegawai di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sudah seharusnya menjadi tugas kita untuk melestarikan hewan endemik ini agar nantinya ditahun-tahun mendatang tidak akan terjadinya kepunahan pada hewan yang masuk dalam keluarga Phalangeridaeini. (Triambogo, peserta Ekspedisi NKRI 2013 dari Fakultas Biologi Unsoed)